Sekolah Negeri vs Swasta di Indonesia

Salah satu masalah bangsa ini yang masih perlu kita atasi bersama menurut pendapat saya salah satunya yang terpenting adalah masalah pendidikan.

Kesenjangan antara negeri dan swasta, baik dari input SDM, Kualitas pembelajaran, sampai kualitas lulusan. Negeri selalu menjadi favorit banyak orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Masalah yang perlu kita tarik bersama untuk dikontemplasikan adalah bagaimana nasib siswa yang tidak lolos seleksi masuk di Sekolah favorit? Bukankah tujuan dan harapan semua orang tua yang menyekolahkan anaknya itu sama? Mereka ingin anaknya menjadi orang yang berpendidikan, memiliki nasib yang lebih baik, bahkan tidak jarang menjadi satu-satunya harapan orang tua untuk merubah nasib keluarganya.

Undang-undang Dasar NRI menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Secara logic kemudian seharusnya kita berpikir apakah mendapatkan pendidikan itu ada pembedaannya? Tentu semua menginginkan pendidikan yang di dapat adalah pendidikan yang berkualitas bagus.

Masalah guru honorer masih menjadi masalah yang begitu populer di dunia pendidikan kita. Sedikit berbincang dengan guru swasta dan guru negeri, saya mendapatkan beberapa hal yang begitu berbeda berkaitan dengan kesejahteraan guru. Pada konteks ini saya ingin kita semua melepaskan dahulu peribahasa bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan yang lebih mencengangkan bagi saya adalah adanya stereotip di masyarakat bahwa profesi guru menjadi profesi yang bersifat pengabdian, jadi sebagai guru jangan mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu. Pandangan seperti ini saya pikir perlu di koreksi. Bukankah setiap warga negara Indonesia membutuhkan penghidupan yang layak? Saya pikir guru adalah pekerjaan yang profesional, sehingga tidak tabu lagi kalau guru sebagai sang pahlawan tanpa tanda jasa membahas masalah kesejahteraan.

Kembali ke pita merah pembahasan, dari segi kesejahteraan sebenarnya timbul sebuah gap yang begitu memilukan antara guru negeri dengan guru swasta. Beberapa diskusi langsung bersama guru baik swasta maupun negeri yang telah saya lakukan memberikan sebuah gambaran penting potret kesejahteraan guru. Guru negeri cenderung lebih berkinerja baik karena honor yang diterima kalau saya lihat dan boleh saya katakan cukup. Proses pembelajarannya pun juga berlangsung enak dan nyaman karena fasilitas yang  mendapat support penuh dari pemerintah. Di tambah lagi SDM Peserta didik yang ada adalah SDM berkualitas yang sudah lolos seleksi, sehingga berlipat pula kemudahan seorang guru negeri. Ternyata hal ini berbanding terbalik dengan guru swasta, misal saja kita bicara masalah honor, kalau hitung-hitungan di sekolah swasta masih begitu kecil untuk per jam pelajaran yang mereka dapat, ada yang hanya 14 ribu sampai 30 ribu. Bahkan ada cerita dari guru swasta yang saya ajak bertukar pikiran untuk membahas masalah ini. Bayangkan saja, ada guru yang rela mengajar ke luar kota dengan menempuh perjalanan 1,5 jam hanya untuk diapresiasi 100 ribu per bulan. Belum lagi siswanya yang kebanyakan merupakan hasil SDM yang tidak lolos seleksi dari Sekolah favorit. Kemudian masalah perlengkapan yang tidak se lengkap sekolah negeri. Tentu kalau berdasarkan diskusi saya, pekerjaan sebagai seorang guru swasta saya pikir lebih berat dari seorang guru negeri. Hal tentu berkaitan sekali dengan guru yang masih harus mikir-mikir untuk memfotocopykan modul kepada siswanya dengan honor yang begitu kecil. Saya tidak membahas ini dalam tataran sertifikasi dan tunjangan yang akhir-akhir ini sudah menjadi program untuk peningkatan kesejahteraan guru. Saya pikir hal itu termasuk program yang bagus namun untuk mendapatkan itu seorang guru harus sudah melewati masa pengabdian menjadi seorang guru yang relatif tidak singkat.

Mohon maaf kepada para pembaca yang mungkin tidak sependapat dengan saya, sampai saat ini saya masih meyakini bahwa pendidikan kita terus berbenah dan masih mencari sistem yang cocok dengan kita. Sedikit pertanyaan yang cukup mengganggu saya adalah hadirnya sekolah swasta menjadi inisiatif masyarakat yang harusnya cukup bisa diapresiasi tinggi oleh pemerintah, pasalnya saya sudah berkunjung ke beberapa tempat pelosok di kabupaten saya saja yang notabene merupakan daerah di pinggiran kota besar namun sekolah negeri dari pemerintah pun belum bisa menjangkau. Kemudian saya semakin tersentuh karena masyarakat kemudian berinisiatif dan bergerak untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang tentu saja pada kenyataannya bisa menampung dan mengakomodir siswa-siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri.

Negara sudah hadir dalam peningkatan masalah ini, namun kenapa masalah ini masih begitu berlanjut. Saya pikir korbannya adalah siswa. Mereka mempunyai pandangan tersendiri dengan siswa dari sekolah negeri yang notabene lebih favorit. Kemudian terjadilah sebuah masalah turunan yang mana terjadi ketidakefektifan dalam pembelajaran. Mulai dari guru yang tidak semangat dalam mengajar, siswa yang tidak semangat dalam belajar, dan sekolah yang asal mencari murid agar ruang kelasnya terisi.

Bersambung-

 

Opini oleh Budi

(Mantan Guru Honorer)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x